Pencak Silat sebagai budaya khas Betawi yang hampir punah
Di Indonesia yang dikenal sebagai sentra ilmu bela diri dari masyarakat rumpun Melayu, pencak silat berkembang sejalan dengan sejarah masyarakatnya.
Dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami bangsa Indonesia, pencak silat terbentuk secara simultan. Tidak mengherankan hampir di setiap daerah dari barat sampai ke timur terdapat ilmu bela diri, nama dan istilahnya berlainan di tiap-tiap daerah namun memiliki aspek dasar yang sama yaitu mental spiritual, seni, dan beladiri.
Di dalam pencak silat khas Betawi juga terdapat aspek mental spiritual, aspek seni, aspek beladiri, dan belakangan aspek olahraga untuk mengukuhkan pencak silat sebagai ilmu beladiri yang dipertandingkan. Keempat aspek ini menyatu dalam gerakan-gerakan khas pencak silat baik bertahan maupun menyerang.
Pencak silat khas Betawi atau maen pukulan memiliki peranan yang sangat penting dalam Kancah pencak silat nasional mengingat hampir separuh dari sekitar 600 sampai 800 aliran atau perguruan yang ada di Indonesia berasal dari Jakarta ada sekitar 317 aliran lagi main pukulan di tanah Betawi yang merupakan pengembangan dari sekitar 100 sampai 200 pecahan aliran dari empat aliran inti.
Jumlah 317 aliran tersebut merupakan data yang dimiliki PPS.Putra Betawi namun perlu di perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut untuk memastikan keempat aliran inti itu didasarkan atas karakter dan bentuk pukulan yang terdiri dari gerak cepat, gerak kuat, gerak teguh, dan gerak rasa.
Gerak cepat mengacu pada karakter khas aliran main pukulan yang mengandalkan kecepatan gerakan baik pukulan, tendangan maupun Serang-Bela. Gerak kuat mengacu pada kekuatan tubuh dalam setiap atraksinya, misalnya menghancurkan benda-benda keras dengan kekuatan tangan dan tubuh. Gerak Teguh mengacu pada aliran maen pukulan yang lebih bersifat inner power seperti penggunaan tenaga kracht dan sebagainya. Sedangkan gerak rasa ciri khas utamanya adalah penggunaan rasa pada penempatan tenaga atau kosong isi.
Maen pukulan terdiri dari 2 kata dasar yaitu maen yang berasal dari dialek lokal untuk kata main dan pukul yang masing-masing berdiri sendiri sebagai kata kerja. Istilah lokal masyarakat Betawi untuk pukulan berbeda arti dengan bahasa Indonesia sekalipun memiliki kata yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI kata main berarti melakukan perbuatan untuk menyenangkan hati dengan atau tanpa menggunakan alat-alat tertentu, sedangkan pukul bermakna ketuk dengan sesuatu yang keras atau berat. Penambahan akhiran an menyatukan dua kata dasar itu menjadi satu kata benda yang memiliki arti tersendiri. Akhiran an dapat berfungsi sebagai repetisi dari kata dasarnya.
Masyarakat Betawi mengartikan maen pukulan sebagai permainan yang melibatkan kontak fisik Serang Bela dengan atau tanpa senjata, di dalamnya terdapat unsur seni bela diri. Konteks kata main menandakan ada unsur keterangan dengan kata lain ilmu bela diri bagi masyarakat Betawi awalnya hanya permainan bukan untuk menunjukkan kehebatan fisik maupun sifat jago.
Maen pukulan erat kaitannya dengan perkembangan kebudayaan Betawi dan eksistensi etnis Betawi yang menurut beberapa catatan sejarawan merupakan kebudayaan yang paling belakangan terbentuk di Indonesia. Pemaparan umum menyebutkan akulturasi merupakan pembentukan utama etnis Betawi berdasarkan argumen itu dapat dipastikan bentuk konkret maen pukulan Betawi yang ada sekarang adalah hasil produk akulturasi.
Hampir 5 abad berlalu keberadaan etnis Betawi sebagai penduduk asli Jakarta terasa kian tersisih. Begitu pesatnya perkembangan Jakarta sebagai ibukota negara mau tidak mau menjadi incaran kaum urban. kebudayaan Betawi tidak dapat mengelak dari pengaruh budaya pendatang yang dapat membawa ke arah kebaikan maupun sebaliknya tak terkecuali maen pukulan yang terus mengalami tahap perubahan hingga kini. Ironisnya perubahan itu membawa main pukulan ke arah kepunahan atau destroy gradual change khususnya pada tiga dasawarsa terakhir, derasnya arus media yang mempromosikan ilmu beladiri asing membuat maen pukulan semakin dilupakan. kenyataannya semakin banyak generasi muda Betawi yang acuh tak acuh terhadap tradisi dan budaya leluhurnya, termasuk Maen pukulan Padahal di masa lalu ada dua hal yang wajib dilakukan setiap anak muda Betawi yaitu salat dan silat. Kini nasib pukulan sebagai salah satu identitas kebetawian, menyerupai eksistensi etnis Betawi, yang terus kan termarjinalkan.

Komentar
Posting Komentar